Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya dan tidak melupakan sejarah asal usulnya, inilah yang menjadi dasar bagi kami pemerintah Desa Sindanggalih berusaha terus menggali, menemukan dan melestarikan peninggalan-peninggalan sejarah yang berhubungan dengan cikal bakal berdirinya Desa Sindanggalih dan merupakan tetenger berdirinya Desa Sindanggalih.
Konon dahulu Desa Sindanggalih sekitar ± Tahun 1651 terdiri dari 2 (dua)Desa yaitu Desa Sangojar dan Desa Cikacang yang pada masa itu desa Sangojar yang merupakan cikal bakal Desa Sindanggalih dipimpin oleh seorang Lurah (Kuwu) yang bernama H. Jaelani yang selanjutnya dipimpin oleh H. Abdul Hadi (Adi Sastra) NamaSangojarberawal dari
kejadian tepatnya pada tahun 1651 datang seorang utusan dari Sultan Agung Mataram (1614-1645) ke Sangojar (Nama Kampung Sampai Saat ini) yang bernama Embah Kyai Mukarrob, dan beliau menancapkan 9 (sembilan) pohonJuar, dari peristiwa itulah Nama Sangojar diambil, kata Sangayang artinya Sembilan dan kata Juar adalahnama pohonyang ditanamkan oleh Embah Kyai Mukarob.
Sumber lain menerangkan, Sangojarberasal dari Sanga artinya Sembilan ajar mempunyai arti ajaran dalam kata lain mempunyai arti Ajaran dari Sembilan Wali.
Pada tahun 1871 waktu pemerintahan dikepalai oleh Mas Padmadinata (H. Jamjam Mubarok) Kedua Desa yaitu Desa Sangojar dan Desa Cikacang disatukan menjadi Desa Sindanggalih kata Sindanggalih diambil dari sejarah yang mana pada tanggal 8 mei 1579 pada waktu itu Kerajaan Sunda Pajajaran yang diperintah oleh Arya Baduga Maha Raja (Prabu Siliwangi/Niskalawastu Kencana/Sayang Hawu) hancur lebur oleh Senopati Sarosoan dari Banten atas perintah Panembahan Maulana Yusuf Sultan Banten yang pada waktu itu Banten tahun 1526 telah memisahkan diri dari kerajaanPajajaran dan mendirikan Negara Islam Banten, pada waktu itu raja, bangsawan, senopati, para putra mahkota Sri Baduga Maha Raja meninggalkan keraton yang sudah hancur, dalam sejarah kabupaten Garut diterangkan bahwa Prabu Siliwangi / Prabu Jaya Dewata mendirikan kerajaan baru di Sindang Kasih (Majalengka sekarang), tegasnya Kerajaan Sunda Pajajaran terpecah menjadi 18 (Delapan Belas) Kerajaan kecil (terjadi sekitar tahun 1576) seperti :
- Cirebon larang
- Cirebon Girang yang di rajai oleh Prabu Kasmaya (Garut sekarang) atau dikenal dengan kerajaan Galih Pakuwon yang terletak di Blubur Limbangan
- Sindang Barang dirajai oleh Panji Wirajaya
- Sukapura dirajai oleh Lembu Jaya
- Kidang Lumutan dirajai oleh Menak Darmawangi
- Galuh dirajai oleh Lara Tapa
- Astana Karang dirajai oleh Nalawingkang
- Tajuk Nasing dirajai oleh Aji Narma
- Sumedang Larang dirajai oleh Lembu Peteng Aji
- Ujung Ngumbara dirajai oleh Liman Kancana
- Ujung Kidul dirajai oleh Prabu Gantangan
- Kemuning Gading dirajai oleh Prabu Silih Wangi
- Panca Kaki dirajai oleh Niti Muda Aji
- Tanjung Sangara dirajai oleh Lembu Wulung
- Sunda Kelapa dirajai oleh Pangeran Rangsang Jiwa
- Banten Girang dirajai oleh Mas Jongjo
- Pulo Sari dirajai oleh Ajar Domas
- Ujung Kulon
Hal ini sengaja dipaparkan Karen ada kaitannya dengan peninggalan-peninggalan bersejarah yang terdapat di kecamatanNangka Pait (Karangtengah sekarang) diantaranya:
Makam Embah Kyai Mukarob / Embah Gaber / Sayang Hawu, yang berada di Cikiruh Desa Cinta. Pada waktu Sultan Agung Mataram (1614-1645) bersama Senopati Sutawijaya mengutus Embah Kyai Mukarob ke Galih Pakuwon (Limbangan sekarang) untuk menemui Prabu Kiansantang dalam menjalankan tugas menyatukan Negara Mataram, agar Negara kecil bekas bawahan Pajajaran masuk Islam, dari Galih Pakuwon (Limbangan sekarang) beliau (Embah Kyai Mukarob) melanjutkan perjalanannya ke Desa Sangojar untuk menemuai Embah Santoaan Suci Maha Raja ( putra Sri Baduga Maha Raja) yang berada di kampung Nangklong tercatat dalam sejarah Garut beliau merupakan Senopati ke-10 Prabu Kiansantang, kemudian dari Nangklong Embah Kyai Mukarob pergi ke kampung Sangojar untuk menemui Embah Terong Peot hal ini beliau lakukan sesuai dengan petunjuk dari Prabu Liman Sanjaya dari Galuh Pakuwon (Limbangan Sekarang).
Melihat dari riwayat diatas terbentuknya nama Sindanggalih kemungkinan besar ada kaitannya dengan kerajaan Galih Pakuwon yaitu kata Sindang mempunayi arti Singgah dan Galih merupakan sebagian nama dari kerajaan Galih Pakuwon jadi kata Sindanggalih mempunyai arti tempat persinggahannya para petinggi kerajaan Galuh Pakuwon dan hal tersebut terbukti dengan adanya peninggalan makam-makam bersejarah kerajaan Galuh Pakuwon seperti makam
yang berada di Nangklong yaitu makam Embah Santoaan Suci Maha Raja, makam Embah Kyai Mukarob (Ustara/Sayang Hawu/Jaya Perkosa) di Sangojar, makam Embah Terong Peot yang berada di Sangojar (Singkup).
Ada hal yang perlu diketahui bahwa dalam sejarah Sumedang Larang pada masa pemerintahan Prabu Geusan Ulun (1579-1610) beliau meminta bantuan kepada Embah Kyai Mukarob dan Embah Terong Peot (Embah Pancar Buana) untuk melawan serangan dari Kerajaan Cirebon.
Daerah Sindanggalih yang merupakan salah satu daerah yang terletak di kecamatan Karangtengah (dahulu Kecamatan Nangka Pait/ Sukawening) yang mempunyai sumber-sumber pendapatan diantaranya adalah Bengkok (Tanah Carik) hasil dari tanah titisan desa, tanah milik adat hasil dari tanah Negara.
Daftar Kepala Desa dari awal pembentukan sampai sekarang
|
No
|
Nama kepala Desa
|
Masa Jabatan (thn-thn)
|
|
|
Kuwu Desa Sangojar (Sindanggalih sekarang) pada Zaman Penjajahan Belanda
|
|
|
1
|
H. Jaelani
|
|
|
|
2
|
H. Abdul Hadi (Adisastra)
|
|
|
|
3
|
Wirasingadinata
|
|
|
|
4
|
H. Jamjam Mubarok (Padmadinata) Kuwu/Lurah Sindanggalih
|
|
|
|
5
|
Yudapraja
|
|
|
|
6
|
Wiria
|
|
|
|
7
|
Emon Kartadinata (Mama Lurah)
|
|
|
|
8
|
Emo Kartadinata
|
|
|
|
9
|
Wigena
|
|
|
|
Kuwu (Kepala Desa) pasca kemerdekaan Republik Indonesia
|
|
|
10
|
Purwadinata
|
1947 s/d 1949
|
|
|
11
|
Mad Usri
|
1949 s/d 1950
|
|
|
12
|
M. Sarbini
|
1950 s/d 1961
|
|
|
13
|
Ono Hanapi
|
1962 s/d 1972
|
|
|
14
|
Komas Sodiq Ranudikarta
|
1972 s/d 1996
|
|
|
15
|
H. Kamil Mulyana
|
1996 s/d 2008
|
|
|
16
|
Encang Jayapraja
|
2008 sekarang
|
|